Senin, 15 Maret 2010
Pernah Makan Bakso Monyet? Ini Dia Ceritanya

KOMPAS.com — Jajaran Polres Situbondo menangkap pasangan suami-istri atau pasutri pemburu monyet jenis lutung di Hutan Taman Nasional Baluran. Di depan penyidik, mereka mengaku menjual daging satwa langka itu ke pedagang bakso. Diduga, suami istri ini bagian dari sindikat pemburu monyet.
Pasutri yang tertangkap itu adalah Samsul Arifin (46) dan Suhaini (46), warga Desa Trigonco, Kecamatan Asembagus, Kabupaten Situbondo.
Dari rumah kedua pelaku ini, polisi mengamankan dua senapan angin, 30 kilogram daging monyet yang siap kirim, dan seekor monyet yang masih hidup.
Penangkapan itu dilakukan ketika Suhaini hendak menjual daging monyet kepada seorang pedagang bakso yang berjualan di kawasan Asembagus. Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, pasutri ini kini mendekam di tahanan Mapolsek Asembagus.
“Keduanya tertangkap tangan saat mau menjual daging monyet itu kepada pedagang bakso. Karena ancaman hukumannya 5 tahun lebih, kedua pelaku ditahan,” kata Kapolres Situbondo AKBP Taufik Rahmad Hidayat melalui Kasat Reskrim AKP Sunarto.
Menurutnya, dari hasil koordinasi dengan petugas Hutan Taman Nasional Baluran (HTNB), 30 kg daging monyet itu diperkirakan didapat dari antara 20 dan 25 monyet. Monyet yang diburu oleh pasutri ini adalah jenis lutung yang sering bergerombol saat mencari makan di hutan. Bahkan, pada musim kemarau, monyet yang dikenal galak ini sering berada di pinggir jalan raya untuk mencari sisa-sisa makanan yang dibuang pengguna jalan raya di kawasan hutan Baluran.
Tersangka Samsul Arifin mengaku mengetahui bahwa binatang yang ditembak dan dijual dagingnya itu termasuk hewan yang dilindungi undang-undang. Namun, karena terdesak kebutuhan sehari-hari, apalagi banyak pesanan daging monyet, dia bersama istri nekat berburu monyet di hutan Baluran.
“Biasanya daging lutung saya jual kepada pemesannya antara Rp 15.000 dan Rp 20.000 per kilogram,” kata Samsul Arifin di depan penyidik.
Samsul Arifin mengaku baru dalam satu hingga dua minggu terakhir ini berburu monyet karena mendapat banyak pesanan. Ia mengaku dalam tiga kali berburu mendapatkan sekitar 75 monyet. Berat daging seekor monyet sekitar 1,5 kg. Daging monyet itu kemudian dijual kepada pedagang bakso di Asembagus yang memesannya. “Untuk menjual daging lutung, saya biasanya hanya melakukan melalui handphone lalu diambil oleh pemesannya di sebuah tempat,” kata Samsul.
Adapun Suhaini mengaku tidak ikut berburu. Ia hanya menjualkan daging lutung hasil buruan suaminya itu kepada pemesan. “Ini juga baru pertama saya jual daging ini,” katanya di hadapan penyidik. Dari pemeriksaan itu, polisi belum berhasil mengungkap siapa saja pemesan daging monyet tersebut karena kedua tersangka tidak mau membeberkan nama-nama pemesan.
Pihak kepolisian berjanji terus menyidik kasus ini hingga diketahui ke mana saja penyebaran daging satwa yang konon bila dikonsumsi bisa untuk obat penambah vitalitas itu. Polisi menduga dua orang ini adalah bagian dari sindikat perburuan monyet di kawasan HTNB dan kegiatan tersebut telah berlangsung lama.
Banyak penyakit
Ketua Perhimpunan Kebun Binatang Seluruh Indonesia (PKBSI) Rahmat Shah menuturkan, jenis apa pun kera atau monyet tidak layak untuk diburu, dibunuh, dijual dagingnya, apalagi dikonsumsi. “Kera itu banyak membawa penyakit, apalagi kera liar,” katanya saat dihubungi.
Menurut Rahmat, satwa monyet, kalau termasuk jenis yang liar, harus dikarantina lebih dulu setelah ditangkap. Pertimbangannya, penyakit yang ada pada kera ini sangat banyak. “Kera yang habis ditangkap itu harus dikarantina dulu dan diberi vaksin, baru aman,” tambahnya.
Dari sisi hukum, perburuan terhadap monyet juga dilarang. Dia menegaskan bahwa sebagian besar jenis kera merupakan satwa yang dilindungi. “Termasuk kera jenis lutung itu hewan yang dilindungi,” ungkapnya.
Terkait adanya orang yang berburu monyet dan mengonsumsi dagingnya untuk dijadikan obat atau khasiat tertentu, Rahmat sama sekali tak memercayainya. “Enggak ada dan enggak percaya kalau daging kera bisa untuk menyembuhkan suatu penyakit,” katanya.
Perburuan monyet di HTNB juga membuat prihatin Tonny Sumampouw, anggota World Conservation Union. Pasalnya, kera tersebut ternyata dapat dimanfaatkan untuk kepentingan farmasi. “Jika itu terjadi, saya benar-benar prihatin. Apalagi diburu hanya untuk diambil dagingnya. Kera-kera itu jumlahnya sudah semakin berkurang, dan merupakan primata yang lebih dekat dengan manusia,” kata Tonny Sumampouw yang juga salah satu Direktur TSI II Prigen, Kabupaten Pasuruan.
“Kelewatan betul jika kera-kera tersebut diburu dan dagingnya dimakan, apalagi kera ini dapat dimanfaatkan untuk kepentingan kesehatan, seperti pembuatan vaksin polio dan vaksin-vaksin lainnya,” imbuh Tonny yang juga Sekjen Perhimpunan Kebun Binatang Indonesia.
Di kawasan HTNB yang terletak di Kecamatan Banyuputih, Situbondo, terdapat 444 jenis flora dan fauna. Sedikitnya ada 47 jenis mamalia, yang 12 jenis di antaranya adalah satwa dilindungi UU, termasuk monyet jenis lutung dan monyet ekor panjang. Meskipun berada di luar kawasan HTNB, satwa ini tetap tidak boleh untuk diambil dan dipelihara.
Keberadaan monyet lutung (Trachypithecus auratus cristatus) dilindungi berdasarkan SK Menteri Kehutanan dan Perkebunan No 733/Kpts-II/1999 tentang Penetapan Lutung Sebagai Satwa yang Dilindungi. SK menteri ini dikeluarkan, salah satunya, karena populasi satwa jenis ini telah mengalami penurunan dan terancam punah.
Inventarisasi monyet ekor panjang dan lutung atau budeng di Taman Nasional Baluran dilaksanakan pada 25 Oktober 1995 sampai 30 Oktober 1995. Hasilnya, populasi monyet ekor panjang terdata sebanyak 1.548 ekor dan lutung 974 ekor. Namun, jumlah ini dari tahun ke tahun diperkirakan menurun.
Rabu, 10 Maret 2010
"Tetapkan Tujuan Hidup"
Ditulis oleh: Anne Ahira

Nur,
"Without goals, and plans to reach them, you are
Itulah perumpamaan bagi orang yang tidak punya
tujuan dalam hidupnya.
Banyak orang melakoni perannya, tapi tidak tahu
arah hidup yang ingin ditujunya. Mereka-reka hidup
adalah apa yang kemudian dilakukannya.
Bila sesuatu hal buruk terjadi, mereka akan berdalih
nasib tak berpihak padanya.
Tidak jarang seseorang baru menyadari tujuan
hidupnya pada usia tua. Sangat disayangkan memang.
Seringkali orang tidak berani melakukan perubahan
dalam hidupnya. Dia hanya menunggu, dan menunggu
adanya perubahan tersebut... hingga akhirnya tujuan
hidupnya tidak tercapai!
Sebenarnya, tidak masalah jika kita harus mengubah
tujuan hidup beberapa kali. Hal yg terpenting adalah
setiap saat kita mempunyai tujuan hidup yang ingin
dicapai.
Setidaknya kita tahu ke mana kita akan berjalan dan
strategi apa yang harus diambil.
4 Cara Yang Bisa Nur Pakai Untuk Menetapkan
Tujuan Hidup:
Tanyakan pada hati nurani, apa sebenarnya

keinginan Nur untuk beberapa tahun ke depan?
Tidak ada salahnya Nur bermimpi. Nur
tidak perlu malu mengakuinya, lagipula, tokh tidak
ada biaya yang harus Nur keluarkan untuk
sekedar bermimpi. ;-)
Dengan mengumpulkan informasi, Nur
bisa lebih mudah mencapai tujuan yang diinginkan.
Jika ada orang lain yang sudah berhasil melakukan
yang Nur inginkan, belajarlah dari mereka.
Lakukan apa yang mereka kerjakan!
Lakukan sesuatu dan secara terus menerus yang akan
membawa Nur pada impian hidup yang diinginkan!
Jika ada cara yang Nur lakukan terbukti efektif
dan mendekatkan pada tujuan yang ingin dicapai,
maka alangkah baiknya jika Nur berusaha untuk
meningkatkan kemampuan dan menambah kecepatan
kinerja agar tujuan hidup Nur lebih cepat tercapai.
Jika keempat hal di atas Nur lakukan secara terus
menerus tanpa lelah dan bosan, Insya-Allah Nur
akan mendapatkan tujuan hidup yang diinginkan.
Nur ibaratnya adalah seorang 'pemahat' atas
gambaran kehidupan Nur sendiri. Dan seorang
pemahat yang baik akan selalu memiliki 'planning'
terlebih dahulu untuk mendapatkan hasil yang
terbaik.
Dalam hal ini, Nur pun hanya bisa sebesar dan
sebahagia sebagaimana tujuan yang telah Nur
Hargai Apa Yang Kita Miliki

Nur,
Pernahkah Nur mendengar kisah Helen Kehler?
Dia adalah seorang perempuan yang dilahirkan
dalam kondisi buta dan tuli.
Karena cacat yang dialaminya, dia tidak bisa
membaca, melihat, dan mendengar. Nah, dlm
kondisi seperti itulah Helen Kehler dilahirkan.
Tidak ada seorangpun yang menginginkan
lahir dalam kondisi seperti itu. Seandainya
Helen Kehler diberi pilihan, pasti dia akan
memilih untuk lahir dalam keadaan normal.
Namun siapa sangka, dengan segala
kekurangannya, dia memiliki semangat hidup
yang luar biasa, dan tumbuh menjadi seorang
legendaris.
Dengan segala keterbatasannya, ia mampu
memberikan motivasi dan semangat hidup
kepada mereka yang memiliki keterbatasan
pula, seperti cacat, buta dan tuli.
Ia mengharapkan, semua orang cacat seperti
dirinya mampu menjalani kehidupan seperti
manusia normal lainnya, meski itu teramat sulit
dilakukan.
Ada sebuah kalimat fantastis yang pernah
diucapkan Helen Kehler:
"It would be a blessing if each person
could be blind and deaf for a few days
during his grown-up live. It would make
them see and appreciate their ability to
experience the joy of sound".
Intinya, menurut dia merupakan sebuah anugrah
bila setiap org yang sudah menginjak dewasa
itu mengalami buta dan tuli beberapa hari saja.
Dengan demikian, setiap orang akan lebih
menghargai hidupnya, paling tidak saat
mendengar suara!
Sekarang, coba Nur bayangkan sejenak....
......Nur menjadi seorang yang buta
dan tuli selama dua atau tiga hari saja!
Tutup mata dan telinga selama rentang waktu
tersebut. Jangan biarkan diri Nur melihat
atau mendengar apapun.
Selama beberapa hari itu Nur tidak bisa
melihat indahnya dunia, Nur tidak bisa
melihat terangnya matahari, birunya langit, dan
bahkan Nur tidak bisa menikmati musik/radio
dan acara tv kesayangan!
Bagaimana Nur? Apakah beberapa hari cukup berat?
Bagaimana kalau dikurangi dua atau tiga jam saja?
Saya yakin hal ini akan mengingatkan siapa saja,
bahwa betapa sering kita terlupa untuk bersyukur
atas apa yang kita miliki. Kesempurnaan yang ada
dalam diri kita!
Seringkali yang terjadi dalam hidup kita adalah
keluhan demi keluhan.... Hingga tidak pernah
menghargai apa yang sudah kita miliki.
Padahal bisa jadi, apa yang kita miliki merupakan
kemewahan yang tidak pernah bisa dinikmati
oleh orang lain. Ya! Kemewahan utk orang lain!
Coba Nur renungkan, bagaimana orang yang
tidak memiliki kaki? Maka berjalan adalah sebuah
kemewahan yang luar biasa baginya.
Helen Kehler pernah mengatakan, seandainya ia
diijinkan bisa melihat satu hari saja, maka ia yakin
akan mampu melakukan banyak hal, termasuk
membuat sebuah tulisan yang menarik.
Dari sini kita bisa mengambil pelajaran, jika kita
mampu menghargai apa yang kita miliki, hal-hal
yang sudah ada dalam diri kita, tentunya kita akan
bisa memandang hidup dengan lebih baik.
Kita akan jarang mengeluh dan jarang merasa susah!
Malah sebaliknya, kita akan mampu berpikir positif
dan menjadi seorang manusia yang lebih baik



